Pemkab Sintang Gelar Rapat Evaluasi Stok dan Harga Sembako Jelang Idul Fitri 2026

SINTANG, MMS – Menjelang Idul Fitri 2026, tepatnya H-17 atau pada hari ke-14 bulan Ramadhan, Pemerintah Kabupaten Sintang menggelar rapat dengan pengusaha telur, daging, dan sembako pada Selasa, 3 Maret 2026.

Rapat tersebut berlangsung di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, dengan tujuan untuk memastikan ketersediaan stok dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok.

Helmi, Staf Ahli Bupati Sintang Bidang Perekonomian, Pembangunan, dan Keuangan, menyampaikan bahwa pertemuan ini diadakan lebih awal agar Pemkab Sintang dapat mengumpulkan informasi terkait stok barang dan harga yang berlaku di pasar, serta masalah yang dihadapi oleh para pengusaha.

Hal ini dilakukan agar jika ada kendala, Pemkab Sintang bisa segera turun tangan dan mengambil kebijakan untuk menyelesaikan masalah yang muncul. “Tujuan kami adalah memastikan stok sembako dan daging cukup dan harga tetap stabil,” ujar Helmi.

Eka Dahliana, Kepala Bidang Peternakan Dinas Perkebunan dan Peternakan, memaparkan data terkait populasi ternak di Sintang. Saat ini terdapat 4.965 ekor sapi potong, 703.518 ekor ayam broiler, 3.464 ekor kambing, dan 78.132 ekor ayam petelur.

Beberapa kecamatan di Sintang, seperti Sungai Tebelian, Sepauk, Dedai, Binjai Hilir, dan Tempunak, menjadi pusat peternakan sapi. Eka juga menambahkan bahwa jumlah sapi siap potong saat ini ada 1.327 ekor, sementara kelompok peternak ayam petelur baru mencakup 19 kelompok, dengan hanya 4 yang telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).

Itoy Thomas Aquino, pemimpin Keling Kumang Agro, yang juga merupakan peternak ayam petelur, mengungkapkan bahwa mereka mengelola 16.000 ekor ayam petelur yang menghasilkan sekitar 13.600 butir telur per hari atau 408.000 butir telur per bulan.

Ia juga menjelaskan bahwa mereka telah membantu peternak lainnya dengan menyebar 13.000 ekor ayam ke 21 desa di Kabupaten Sintang. Meskipun harga telur saat ini adalah Rp2.100 per butir, Itoy memperkirakan harga akan naik karena meningkatnya biaya pakan dan kesulitan mendapatkan solar untuk truk ekspedisi.

Sementara itu, H. Ahmad Prayogo, seorang pengusaha sapi potong, mengungkapkan keprihatinannya tentang populasi sapi potong lokal yang akan habis dalam beberapa tahun mendatang. Sebagian besar sapi yang dipotong saat ini adalah sapi betina, yang seharusnya tidak dipotong. Ia pun berencana mendatangkan sapi dari Bali dan NTB untuk memenuhi kebutuhan, meskipun dengan harga yang lebih tinggi.

Di sisi lain, pemilik agen sembako PT. Sarana Makmur Sentosa mengeluhkan kurangnya stok beras dan minyak goreng. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam bongkar muat kontainer di Pontianak serta terbatasnya pasokan solar untuk ekspedisi.

Sementara itu, Abun, agen daging beku, menyatakan bahwa meskipun daging beku sempat langka di awal Ramadhan, sekarang stok sudah cukup dan diperkirakan akan cukup hingga Idul Fitri 2026, dengan harga Rp120.000 per kilogram.

Lili Suryani, Kepala Bagian Ekonomi Setda Sintang, juga menyampaikan bahwa angka inflasi di Kabupaten Sintang pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,12 persen. Inflasi ini dipengaruhi oleh kenaikan harga beberapa komoditas, termasuk voucher listrik, emas, daging ayam, bawang merah, dan gas 3 kg.

Pertemuan ini dipimpin oleh Helmi dan dihadiri oleh berbagai pihak terkait, termasuk pengusaha dan peternak telur, pengusaha sapi potong, agen sembako, serta perwakilan dari Bulog Sintang, Polres Sintang, Kejaksaan Negeri Sintang, Kodim 1205 Sintang, dan OPD di Lingkungan Pemkab Sintang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *