SINTANG – Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Sintang, yang diwakili oleh Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera, Selly Gathie, secara resmi membuka kegiatan Diseminasi Audit Kasus Stunting Tahap Kedua. Acara ini berlangsung di Aula Puskesmas Sungai Durian.
Kegiatan ini didampingi oleh tim pakar audit kasus stunting yang terdiri dari dokter spesialis anak, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, ahli gizi, dan psikolog. Selly berharap, melalui audit ini, solusi dan rekomendasi terbaik dapat diberikan untuk mengatasi kasus-kasus yang berisiko stunting.
“Tujuan audit ini jelas, yakni mencari akar penyebab masalah stunting. Tim pakar akan menganalisis data dan memberikan rekomendasi,” ujar Selly.
Dalam audit tahap kedua di wilayah Puskesmas Sungai Durian ini, ditemukan empat kasus berisiko stunting, yakni pada ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK), ibu menyusui, balita, dan baduta. Selly menjelaskan bahwa dua kasus pada balita dan baduta ini merupakan saudara kandung dengan riwayat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Beberapa faktor yang memengaruhi dua kasus ini, seperti riwayat keluarga yang terkena TBC, kurangnya pemahaman orang tua tentang kesehatan anak, serta kondisi sanitasi lingkungan yang buruk, menjadi penyebab risiko stunting,” jelas Selly.
Kasus ibu hamil dengan kondisi KEK ditemukan memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 18,1 kg/m² dengan tinggi badan 143 cm. Lingkungan sanitasi yang tidak sehat, termasuk kebiasaan buang air besar sembarangan di sungai, turut menjadi faktor penyebab.
“Sementara itu, pada kasus ibu menyusui, risiko stunting pada bayinya terjadi karena bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) 2.200 gram, tidak mendapatkan asupan gizi seimbang, adanya anggota keluarga yang merokok aktif, serta ibu yang menderita asma,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Selly berharap seluruh pihak yang terlibat dapat bekerja sama untuk menangani dan mencegah stunting secara komprehensif, sehingga prevalensi stunting di Kabupaten Sintang dapat ditekan.
(RILIS KOMINFO SINTANG)










